Perawat Pintar

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 11 Januari 2022

Anatomi dan Fisiologi Hidung

Anatomi dan Fisiologi Hidung

 A.          Anatomi Hidung

 

Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari nares anterior hingga koana di posterior yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. Septum nasi membagi tengah bagian hidung dalam menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Setiap kavum nasi mempunyai 4 buah dinding yaitu dinding medial, lateral, inferior dan superior.


Gambar 1. Anatomi kavum nasi

 

Bagian inferior kavum nasi berbatasan dengan kavum oris dipisahkan oleh palatum durum. Ke arah posterior berhubungan dengan nasofaring melalui koana. Di sebelah lateral dan depan dibatasi oleh nasus externus. Di sebelah lateral belakang berbatasan dengan orbita : sinus maksilaris, sinus etmoidalis, fossapterygopalatina, fossa pterigoides.

A)    Dasar hidung

 

Dibentuk oleh prosesus palatina os maksila dan prosesus horizontal os palatum. Atap hidung terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, dan tulang-tulang os nasale, os frontale lamina cribrosa, os etmoidale, dan corpus os sphenoidale. Dinding medial rongga hidung adalah septum nasi. Septum nasi terdiri atas kartilago septi nasi, lamina perpendikularis os etmoidale, dan os vomer. Sedangkan di daerah apex nasi, septum nasi disempurnakan oleh kulit, jaringan subkutis, dan kartilago alaris major.


B)    Dinding lateral

 

Dinding lateral dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu di anterior terdapat prosesus frontalis os maksila, di medial terdapat os etmoidal, os maksila serta konka, dan di posterior terdapat lamina perpendikularis os palatum, dan lamina pterigoides medial. Bagian terpending pada dinding lateral adalah empat buah konka. Konka terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior kemudian konka yang lebih kecil adalah konka media, konka superior dan yang paling kecil adalah konka suprema. Konka suprema biasanya akan mengalami rudimenter. Diantara konka- konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang dinamakan dengan meatus. Terdapat tiga meatus yaitu meatus inferior, media dan superior.

Meatus superior atau fisura etmoid merupakan suatu celah yang sempit antara septum dan massa lateral os etmoid di atas konka media. Resesus sfenoetmoidal terletak di posterosuperior konka superior dan di depan konka os spenoid. Resesus sfenoetmoidal merupakan tempat bermuaranya sinus sfenoid.

Meatus media merupakan salah satu celah yang di dalamnya terdapat muara sinus maksila, sinus frontal dan bagian anterior sinus etmoid. Di balik bagian anterior konka media yang letaknya menggantung, pada dinding lateralnya terdapat celah berbentuk bulan sabit yang disebut sebagai infundibulum. Muara atau fisura berbentuk bulan sabit yang menghubungkan meatus medius dengan infundibulum dinamakan hiatus semilunaris. Dinding inferior dan medial infundibulum membentuk tonjolan yang berbentuk seperti laci dan dikenal sebagai prosesus unsinatus. Ostium sinus frontal, antrum maksila, dan sel-sel etmoid anterior bermuara di infundibulum. Sinus frontal dan sel-sel etmoid anterior biasanya bermuara di bagian anterior atas, dan sinus maksila bermuara di posterior muara sinus frontal.

Meatus nasi inferior adalah yang terbesar di antara ketiga meatus, mempunyai muara duktus nasolakrimalis yang terdapat kira-kira antara 3 sampai 3,5 cm di belakang batas posterior nostril.


 

C)    Septum Hidung


Gambar 2. Anatomi septum hidung

 


 Septum membagi kavum nasi menjadi ruang kanan dan kiri. Bagian posterior dibentuk oleh lamina perpendikularis os etmoid, bagian anterior oleh kartilago septum, premaksila dan kolumela membranosa. Bagian posterior dan inferior oleh os vomer, krista maksila, krista palatina dan krista sfenoid.

Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior, dan a.palatina mayor yang disebut Pleksus Kiesselbach (Little’s area). Pleksus Kiesselbach letaknya superfisial dan mudah cidera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber epistaksis (pendarahan hidung) terutama pada anak.

Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arteri. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup sehingga merupakan faktor predisposisi untuk mudahnya penyebaran infeksi hingga ke intrakranial.


Gambar 3. Vaskularisasi Hidung

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior, yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris, yang berasal dari n.oftalmikus (N.V1). Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum selain memberikan persarafan sensoris juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima serabut-serabut sensoris dari n.maksila (N.V2), serabut parasimpatis dari n.petrosus superfisialis mayor dan serabut-serabut simpatis dari n.petrosus profundus. Ganglion sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media.

Nervus olfaktorius turun dari lamina kribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung.


Gambar 4. Inervasi hidung

 

 

B.          Fisiologi Hidung

 

Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah : 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal ; 2) fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu ; 3) fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang ; 4) fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; 5) refleks nasal.




Senin, 10 Januari 2022

Anatomi dan Fisiologi Telinga

 Anatomi dan Fisiologi Telinga

 

1.      Anatomi Telinga

 

Telinga merupakan alat penerima gelombang suara atau gelombang udara kemudian gelombang mekanik ini diubah mejadi impuls pulsa listrik dan diteruskan ke korteks pendengaran melalui saraf pendengaran (Gabriel, 1988). Telinga merupakan organ pendengaran dan keseimbangan. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari setiap bagian-bagian telinga yang berbeda. Telinga dapat dibagi menjadi 3 bagian (Syaiffudin, 2004) seperti pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Struktur telinga (Saladin, 2003)

                     a.       Telinga luar

 

Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna), saluran telinga (canalis auditorius externus) dan pada ujung terdapat gendang telinga (membran timpani) (Pearce, 2009). Canalis auditorius externus berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas telinga dalam regio 3000 Hz - 4000 Hz. Kanal ini berukuran panjang sekitar 2,5 cm dengan sepertiga adalah tulang rawan sementara dua pertiga dalamnya berupa tulang. Kanal ini dapat diluruskan dengan cara mengangkat daun telinga ke atas dan ke belakang. Membran timpani berfungsi menyalurkan getaran di udara ke tulang-tulang kecil telinga tengah. Tekanan suara yang melebihi 160 dB dapat memecahkan gendang telinga. Apabila gendang telinga pecah, biasanya dapat sembuh kembali seperti jaringan lainnya. Karena gendang telinga sendiri terdiri dari sel-sel hidup.

 

b.      Telinga tengah

 

Telinga tengah atau rongga timpani adalah bilik kecil yang mengandung udara. Rongga tersebut terletak sebelah dalam membran timpani yang memisahkan rongga itu dari meatus auditorius externa. Dalam telinga tengah bagian yang paling utama adalah osikulus. Yang terdiri dari : palu (maleus), landasan (inkus), dan sanggurdi (stapes). Getaran suara yang diterima oleh gendang telinga akan disampaikan ke tulang pendengaran. Setiap tulang pendengaran akan menyampaikan getaran ke tulang berikutnya. Tulang stapes yang merupakan tulang terkecil di tubuh meneruskan getaran ke koklea. Osikulus ini berperan penting dalam menyesuaikan impedansi di gendang telinga dengan impedansi ruang-ruang berisi air di telinga dalam.

Tekanan suara di bagian dalam mengalami penguatan akibat kerja tulang-tulang tersebut sebagai tuas. Bahkan terjadi penguatan yang lebih besar karena luas gendang telinga yang relatif besar dibandingkan dengan luas jendela oval.

Pinggir tuba eustachius juga termasuk dalam telinga tengah. Tuba Eustachius menghubungkan ruangan pada telinga tengah ke kerongkongan. Dalam keadaan biasa, hubungan tuba Eustachius dan telinga tengah tertutup. Dan terbuka ketika mengunyah dan menguap. Hal ini menjelaskan mengapa penumpang pesawat terasa 'pekak sementara' ketika mendarat. Rasa 'pekak' tersebut disebabkan karena perbedaan tekanan antara udara di dalam pesawat dan udara disekeliling ketika mendarat. Tekanan udara di sekitar telah menurun, sedangkan tekanan pada telinga tengah masih tekanan udara biasa. Perbedaan ini dapat diatasi dengan mekanisme mengunyah sesuatu atau menguap.


c.          Telinga dalam

 

Telinga dalam terdiri dari koklea, yaitu sebuah struktur kecil berbentuk spiral berisi cairan. Ketika gendang telinga bergerak, osikulus di telinga tengah menyebabkan stapes menekan membran lentur yang menutupi jendela oval koklea dan menyalurkan tekanan ke cairan ke dalam koklea. Getaran ini menyebabkan gerakan di membran basilaris fleksibel. Gerakan inilah yang merangsang sel-sel rambut atau hair cells di organ corti untuk kemudian menghasilkan pulsa-pulsa listrik (potensial aksi). Sinyal ini kemudian disalurkan ke otak melalui saraf auditorius. Saraf ini memberikan informasi mengenai frekuensi dan intensitas suara yang kita dengar. Dalam koklea terdapat jendela oval yang terletak di salah satu ujung rongga vestibular, pada ruang tengah adalah duktus koklearis, dan ruang ketiga adalah rongga timpani.

 

d.      Syaraf Pendengaran

 

Syaraf Pendengaran (Nervus Auditorius) terdiri dari dua bagian. Salah satunya pengumpulan sensibilitas dari bagian verstibuler rongga telinga dalam yang memiliki hubungan dengan keseimbangan. Serabut-serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, kemudian bergerak menuju serebelum. Bagian koklea pada syaraf pendengaran adalah syaraf sebenarnya. Serabut syaraf mula-mula dipancarkan pada sebuah nukleus khusus yang berada tepat di belakang talamus, kemudian dilanjutkan ke pusat penerima dalam korteks otak yang teletak pada bagian bawah lobus temporalis (Pearce, 2009).


2.      Fisiologi Pendengaran

 

Suara merupakan suatu sinyal analog/kontinyu yang secara teoritis mengandung informasi yang tak terhingga jumlahnya, yang direpresentasikan pada tak terhingga banyaknya jumlah frekuensi dan tiap frekuensi tersebut memiliki informasi fasa dan magnituda. Suara yang didengar telinga manusia mengalami perubahan dari sinyal akustik yang bersifat mekanik menjadi sinyal listrik yang diteruskan syaraf pendengaran ke otak. Proses mendengar tentunya tidak lepas dari organ pendengaran manusia yakni telinga.

Proses pendengaran ini diawali dengan masuknya gelombang bunyi yang ditangkap oleh daun telinga melewati meatus acusticus eksternus. Daun telinga dan meatus acusticus eksternus ini menyerupai pipa kira-kira sepanjang 2 cm sehingga memiliki mode resonansi dasar pada frekuensi sekitar 4 kHz. Kemudian gelombang suara yang telah ditangkap akan membuat membran timpani telinga bergetar. Seseorang menerima suara berupa getaran pada membran tympani dalam daerah frekuensi pendengaran manusia. Getaran tersebut dihasilkan dari sejumlah variasi tekanan udara yang dihasilkan oleh sumber bunyi dan dirambatkan ke medium sekitarnya, yang dikenal sebagai medan akustik. Variasi tekanan pada atmosfer disebut tekanan suara, dalam satuan Pascal (Pa). Setelah melalui membran tympani, getaran tersebut akan menggetarkan ketiga tulang pendengaran (maleus, incus, stapes). Pada saat maleus bergerak, incus ikut bergerak karena maleus terikat kuat dengan inkus oleh ligamen-ligamen. Artikulasi dari incus dan stapes menyebabkan stapes terdorong ke depan pada cairan cochlear. Ketiga tulang pendengaran tadi mengubah gaya kecil dari partikel udara pada gendang telinga menjadi gaya besar yang menggerakkan fluida dalam koklea. Impedansi matching antara udara dan cairan koklea ialah sekitar 1 kHz.

Pada telinga bagian dalam terdapat koklea dan di dalam koklea terdapat membran basiliar yang bentuknya seperti serat panjangnya sekitar 32 mm. Getaran dari tulang pendengaran diteruskan melalui jendela oval, yang kemudian akan menggerakkan fluida sehingga membran basiliar ikut bergetar akibat resonansi. Bentuk membran basiliar memberikan frekuensi resonansi yang berbeda pada suatu bagian membran. Gelombang dengan frekuensi tertentu akan beresonansi secara sempurna dengan membran basiliar pada titik tertentu, menyebabkan titik tersebut bergetar dengan keras. Prinsip ini sama dengan nada tertentu yang akan membuat garputala bergetar. Frekuensi tinggi menyebabkan resonansi pada titik yang berada di dekat jendela oval dan frekuensi rendah menyebabkan resonansi pada titik yang berada lebih jauh dari jendela oval. Organ korti yang terletak di permukaan membran basiliar yang terdiri dari sel-sel rambut ini akan mengubah getaran mekanik menjadi sinyal listrik. Laju firing (firing rate) sel rambut dirangsang oleh getaran membran basiliar. Kemudian sel saraf (aferen) menerima pesan dari sel rambut dan meneruskannya ke saraf auditori, yang akan membawa informasi tersebut ke otak, yaitu korteks serebri area pendengaran (area Boadmann 41 dan 42) dan disadari sebagai rangsang pendengaran (Anggraeni, 2011).

 

            3.      Bunyi

 

Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang terjadi karena perapatan dan perenggangan dalam medium gas, cair, atau padat. Pada medium gas, kerapatan dan tekanan terkait erat. Oleh karena itu, gelombang bunyi dalam gas, seperti udara dapat dipandang sebagai gelombang kerapatan atau gelombang tekanan (Tipler, 1998). Ada dua aspek dari setiap bunyi yang dirasakan oleh pen- dengaran menusia. Aspek ini adalah “kenyaringan” dan “ketinggian”, masing-masing menyatakan sensasi dalam pendengaran. Kenyaringan berhubungan dengan energi pada gelombang bunyi. Besaran fisika yang menentukan ketinggian adalah frekuensi. Telinga manusia dapat mendengar frekuensi dalam jangkauan 20 Hz samapai 20.000 Hz. Jangkauan ini disebut jangkauan pendengaran. Jangkauan ini berbeda dari orang ke orang. Satu kecenderungan umum adalah jika orang ber- tambah tua, mereka makin tidak bisa mendengar frekuensi yang tinggi, sehingga batas frekuensi tinggi menjadi 10.000 Hz atau kurang (Giancoli, 2001).

 

            4.      Intensitas Bunyi

 

Intensitas gelombang bunyi adalah energi yang diangkut gelombang per satuan luas per satuan waktu. Satuan intensitas gelobang bunyi adalah Jm-2s-1 atau Wm-2. Intensitas gelombang bunyi terlemah yang masih dapat didengar telinga manusia normal yang berfrekuensi 1 kHz adalah sekitar 10-12 Wm-2. Gelombang ini memiliki amplitudo tekanan pm ≈ 2x10-5 Nm-2 dan Ym ≈ 10-11 m. Intensitas gelombang bunyi sebesar 1 Wm-2 dapat mengakibatkan rasa sakit pada telinga manusia normal. Jika frekuensi adalah 1 kHz, maka besar amplitudo tekanan dan simpangannya adalah pm ≈ 28 Nm-2 dan Ym ≈ 10-5 m.

Taraf atau tingkat intensitas gelombang bunyi dilambangkan dengan β. Satuan taraf intensitas adalah bel yang berasal dari penemu telepon yaitu Alexan- der Graham Bell (1847-1922). Dalam satuan dB dengan 1 dB = 1/10 bel, taraf in- tensitas ini di definisikan seperti persamaan 1.

…

 


       ……………………… (1) Dengan I0 = 10-12 Wm-2 yang merupakan intensitas referensi.

 

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur taraf intensitas gelombang bunyi disebut sound level meter yang berskala dB, sedangkan alat untuk menen- tukan spektogram gelombang bunyi disebut audiometer. Sumber gelombang bunyi yang praktis adalah loadspeaker. Loadspeaker merupakan suatu jenis transduser yang mengubah energi listrik menjadi energy mekanik berupa getaran membran. Daya keluaran mekanik loadspeaker dapat diukur melalui pengukuran daya listrik masukan. Karena daya listrik merupakan fungsi kuadrat tegangan listrik maka taraf intensitas bunyi dapat dituliskan sebagai fungsi tegangan listrik seperti berikut.

 

 




 

Dengan V adalah tegangan listrik masukan loadspeaker untuk frekuensi tertentu dan V0 adalah tegangan listrik masukan refrensi untuk frekuensi 1 kHz (Cameron, 2006).

 

Minggu, 09 Januari 2022

Anatomi dan Fisiologi Mata

Anatomi dan Fisiologi Mata



 

A.    Definisi

Mata adalah suatu bola berisi cairan yang terbungkus oleh tiga lapisan jaringan khusus. Mata merupakan organ yang diciptakan Tuhan dan termasuk salah satu organ vital yang penting nilainya. Manusia dapat memperoleh informasi sebanyak 80% hanya dengan melihat (Kurmaselaet al. 2013). Mata berbentuk seperti bola, kecuali tonjolan yang berada didepan mata yaitu tempat masuknya cahaya. Bagian luar mata terdapat sebuah lapisan putih dan kaku, keras disebut sclera. Daerah tonjolan mata terdapat lapisan transparan yang dilewati cahaya disebut dengan kornea (Syaifuddin, 2012). Mata terletak dalam bantalan lemak yang dapat meredam goncangan. Diameter bola mata manusia ± 2,5 cm. Mata dapat bekerja secara efektif menerima cahaya dengan rentang intensitas yang sangat lebar sekitar 10 milyar cahaya.

 

B.     Struktur Mata

Mata dibentuk untuk menerima rangsangan berkas-berkas cahaya pada retina, lalu dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus, mengalihkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak, untukditafsirkan, anatomi organ penglihatan dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu: (Syaifuddin, 2012)

1.     Adneksa Mata

 

Jaringan bagian pendukung mata yang terdiri dari beberapa bagian mata seperti :

 

a.     Kelopak mata

 

Bagian pelindung bola mata karena berfungsi sebagai proteksi mekanis pada bola mata anterior yang menyebarkan air mata ke konjungtiva dan kornea sehingga dapat mencegah mata menjadi kering. Kelopak mata memiliki rambut/bulu yang tumbuh tepi kelopak. Kelopak mata memiliki kulit yang lebih tipis dibandingkan dengan kulit pada bagian tubuh lainnya (Cameron et al. 2006). Kelopak mata terdiri dari jaringan fibrosa yang ditutupi kulit dan dibatasi oleh membran mukosa. Bagian tepi kelopak ditumbuhi rambut (bulu mata) yang mencegah masuknya debu, serangga (Cameron et al, 2006).

Pada kelopak mata terdapat otot-otot orbicularis dimana otot polos ini dipersarafi oleh sistem saraf simpatis, sehingga jika terjadi kerusakan oleh persarafan simpatis akan terjadi ptosis ringan. Tepi kelopak mata merupakan sambungan mukotan, sambungan ini mengandung muara kelenjar minyak Meibom yang terletak di lempeng tarsal. Kelenjar ini mensekresi komponen lipid dari film air mata. Bagian medial pada kelopak mata atas dan bawah dimana dua pungta kecil membentuk bagian awal sistem drainse lakrimal membentuk kanalikulus komunis sebelum memasuki sakus lakrimalis. Duktus nasolakrimalis berjalan dari sakus ke hidung. Drainase air mata merupakan proses aktif, setiap kedipan kelopak mata akan membantu memompa air mata melalui sistem ini (James, Chew dan Bron, 2006).

2.        Bola Mata

 

a.         Konjungtiva

 

Merupakan bagian terluar boa mata yang memiliki pembuluh darah. Membrane mukosa (selaput lendir) yang melapisi kelopak dan melindungi bola mata bagian luar. Konjungtiva terbagi menjadi 2 (dua) yaitu konjungtiva palpebral (melapisi kelopak mata) dan konjungtiva bulbi (menutupi bagian depan bola mata). Konjungtiva berfungsi sebagai proteksi pada sclera dan memberi pelumas pada bola mata (Gul, 2007).

a.      Kornea

 

Merupakan selaput bening mata, jika mengalami kekeruhan akan sangat mengganggu penglihatan. Jendela bening yang melindungi struktur halus yang berada dibelakangnya serta membantu memfokuskan bayangan pada retina. Kornea memiliki ketebalan ± 0,5 mm dan tidak mengandung pembuluh darah (Syaifuddin, 2012). Kornea memfokuskan bayangan dengan membiaskan atau membelokkan berkas cahaya. Besarnya pembiasan (refraksi) bergantung pada kelengkungan permukaannya dan kecepatan cahaya pada lensa dibandingkan pada benda sekitar (indeks bias relatif). Indeks bias hampir konstan untuk semua kornea, tetapi kelengkungan cukup bervariasi pada setiap orang dan berperan besar dalam gangguan penglihatan. Kornea yang terlalu melengkung mata akan berpenglihatan dekat, sedang jika kelengkungan pada kornea kurang maka mata akan berpenglihatan jauh. kelengkungan yang tidak merata akan menyebabkan astigmatisme (Cameron et al, 2006).

b.     Sklera

 

Jaringan ikat dengan serat yang kuat berwarna putih di bawah konjungtiva serta merupakan bagian dengan konsistensi yang relatif lebih keras untuk membentuk bola mata (Gul, 2007). Sklera terbentuk dari serabut kolagen yang saling berkaitan dengan lebar yang berbeda-beda, terletak diatas substansi dasar dan dipertahankan oleh fibrolas. Ketebalan sclera bervariasi, 1 mm disekitar papil saraf optic dan 0,3 mm tepat di posterior insersi otot (James, Chew dan Bron, 2006).

c.      Retina

 

Retina merupakan mekanisme persyarafan untuk penglihatan. Retina memuat ujung-ujung nervusoptikus bila sebuah bayangan tertangkap (tertangkap oleh mata) maka berkas-berkas cahaya benda yang dilihat, menembus kornea, aqueus humor, lensa dan badan vitreus guna merangsang ujung-ujung saraf dalam retina. Rangsangan yang diterima retina bergerak melalui traktus optikus menuju daerah visuil dalam otak, untuk ditafsirkan. Kedua daerah visuil menerima berita dari kedua mata, sehingga menimbulkan lukisan dan bentuk (Syaifuddin, 2012). Sel Kerucut pada retina bertanggung jawab untuk penglihatan siang hari, sel-sel ini terkonsentrasi di fovea yang bertanggung jawab untuk penglihata detail seperti membaca huruf kecil. Sel batang berfungsi pada penglihatan malam hari, sel-sel ini sensirif terhadap cahaya dan tidak seperti sel kerucut yang memberikan sinyal informasi panjang gelombang (warna). Sel batang menyusun sebagian besar fotoreseptor diretina bagian lainnya (James, Chew dan Bron, 2006).

d.     Uvea

 

Lapisan vascular di dalam bola mata yang terdiri dari 3 bagian yaitu iris, korpus siliar dan koroid. Iris membentuk pupil di bagian tengahnya, suatu celah yang dapat berubah ukurannya dengan kerja otot sfingter dan dilator untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke mata. Lapisan yang dapat bergerak untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata .Iris memiliki lapisan batas anterior yang tersusun dari fibroblast dan kolagen serta stroma selular dimana otot sfingter terletak di dalamnya yang dipersarafi oleh sistem saraf parasimpatis (James et al, 2006).

Badan siliar berfungsi menghasilkan cairan yang mengisi bilik mata, sedangkan koroid merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah untuk memberi nutrisi pada bagian mata (Gul, 2007). Proses akomodasi dipengaruhi oleh M.Ciliaris, dimana otot ini berperan untuk berkontraksi sehingga terjadi pengenduran dari Zonula zinnia yang berakibat pencembungan lensa karena elastisitasnya, sehingga menambah kekuatan refraksinya. Otot siliaris dipersarafi oleh sistem parasimpatis (James, Chew dan Bron, 2006). Koroid dibentuk oleh arteriol, venula dan anyaman kapiler padat. Membrane dasarnya dengan membrane dasar epitel pigmen retina membentuk membrane Bruch yang aselular berfungsi sebagai sawar difusi antara koroid dan retina.Koroid berada diantara sclera dan retina yang juga merupakan lapisan gelap kecoklatan, warna gelap ini berfungsi untuk mencegah refleksi (pantulan sinar). Bagian ini mengandung banyak pigmen dan pembuluh darah, berfungsi sebagai penyedia nutrisi dan oksigen (James, Chew dan Bron, 2006).

e.      Pupil

 

Lubang tempat cahaya masuk ke dalam mata, dimana lebarnya diatur oleh gerakan iris. Bulatan hitam yang ada di tengah-tengah adalah pupil. Bila cahaya lemah iris akan berkontraksi dan pupil melebar (midriasis) yang dipengaruhi oleh saraf simpatis sehingga cahaya yang masuk lebih banyak. Sedangkan bila cahaya kuat iris akan berelaksasi dan pupilmengecil (miosis) sehingga cahaya yang masuk tidak berlebihan, dipengaruhi oleh saraf parasimpatis. Pupil sebagai pengatur kebutuhan cahaya yang diperlukan (Gul, 2007).

f.      Lensa mata

 

Struktur biologis yang tidak umum. Transparan dan cekung, dengan kecekungan terbesar berada pada sisi depan. Lensa adalah organ fokus utama, yang membiaskan berkas-berkas cahaya yang terpantul dari benda-benda yang dilihat, menjadi bayangan yang jelas pada retina (Syaifuddin, 2012). Lensa merupakan elemen refraktif terpenting kedua pada mata setelah kornea, dimana lensa disangga oleh serabut zonula yang berjalan diantara korpus siliaris dan kapsul lensa. Serabut zonula ini metransmisikan perubahan pada otot siliaris sehingga membuat lensa mengubah bentuk dan kekuatan refraksinya. Pertambahan usia akan membuat serabut yang letaknya di dalam akan kehilangan nucleus dan organel intraselulernya (James, Chew dan Bron, 2006).


 

3.        Rongga Orbita

 

Rongga tempat bola mata yang dilindungi oleh tulang-tulang yang kokoh. Otot- otot bola mata masing-masing bola mata mempunyai 6 (enam) buah otot yang berfungsi menggerakkan kedua bola mata secara terkoordinasi pada saat melirik (Syaifuddin, 2012). Otot – otot mata ada enam macam yang berfungsi sebagai penggerak bola mata membuat gerakan bola mata bersifat ritmis dan harmonis yaitu:

a.     Musculus rektus internus (medius), otot mata yang menggerakkan bola mata ke arah medial

b.    Musculus rektus externus (lateralis), otot mata yang menggerakkan bola mata ke arah lateral/temporal. Pada saat berkontraksi menyebabkan mata menjadi axis (abduksi).

c.     Musculus rektus superior, otot mata yang berfungsi menarik bola mata ke atas

 

d.     Musculus rektus inferior, otot mata ini berfungsi menarik bola mata ke bawah

 

e.     Musculus oblique superior, otot mata ini berfungsi untuk menarik bola mata ke arah nasal bawah dan menyebabkan mata berputar ke arah dalam (endorotasi)

f.      Musculus oblique inferior, berfungsi menarik bola maat ke arah nasal atas dan menyebabkan mata berputar keluar (eksirotasi).

 

C.    Fisiologi

(Sharewood, 2015)

Gambar 1 Anatomi Mata

Berdasarkan gambar 1 anatomi mata dari bagian paling luar hingga paling dalam, lapisan-lapisan tersebut adalah sklera/kornea, koroid/badan siliaris/iris, retina. Sebagian besar bola mata ditutupi oleh suatu lapisan kuat jaringan ikat, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di sebelah anterior, lapisan luar terdiri dari kornea transparan, yang dapat ditembus oleh berkas cahaya untuk masuk ke interior mata. Lapisan tengah di bawah sklera adalah koroid yang berpigmen banyak dan mengandung banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi bagi retina. Lapisan koroid di sebelah anterior mengalami spesialisasi membentuk badan siliaris dan iris. Lapisan paling dalam di bawah koroid adalah retina, yang terdiri dari lapisan berpigmen di sebelah luar dan lapisan jaringan saraf di sebelah dalam. Lapisan jaringan saraf mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Seperti dinding hitam sebuah studio foto pigmen di koroid dan retina menyerap sinar setelah sinar mengenai retina untuk mencegah pantulan atau pembuyaran sinar di dalam mata. Rongga posterior yang lebih besar antara lensa dan retina mengandung bahan cair mirip gel, cairan vitreous.. Cairan vitreous membantu mempertahankan bentuk bola mata tetap bulat. Rongga anterior antara kornea dan lensa mengandung cairan jernih encer, cairan aqueous. Cairan aqueous membawa nutrien bagi kornea dan lensa. Cairan ini mengalir ke suatu kanalis di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah (Sharewood, 2015).


 

(Guyton & Hall, 2014)

Gambar 2 Kedalaman Fokus Lensa

 



Jumlah cahaya yang masuk ke mata ditingkatan pada saat gelap dan dikurangi pada waktu terang oleh kontrol iris. Jumlah cahaya yang memasuki mata melalui pupil sebanding dengan luas pupil atau kuadrat diameter pupil. Diameter pupil manusia dapat mengecil sampai 1,5 mm dan membesar hingga 8 mm. Jumlah cahaya yang memasuki mata dapat berubah sekitar 30 kali lipat sebagai akibat dari perubahan pupil. Pada gambar 2. 2 mata atas, pupilnya kecil, sedangkan pada mata bawah, pupilnya besar (Guyton & Hall, 2014).


 (Sharewood, 2015)

Gambar 3 Mekanisme Akomodasi

 

Kemampuan untuk menyesuaikan kekuatan lensa dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang dikendalikan oleh otot siliaris.. Berdasarkan gambar 3, ketika otot siliaris berelaksasi, ligamentum suspensorium menegang, dan ligamentum ini menarik lensa menjadi bentuk gepeng dan kurang refraktif. Sewaktu otot ini berkontraksi, kelilingnya berkurang sehingga tegangan pada ligamentum suspensorium berkurang. Ketika tarikan ligamentum suspensorium pada lensa berkurang, lensa menjadi Iebih bulat karena elastisitas inherennya. Meningkatnya kelengkungan karena lensa menjadi lebih bulat akan meningkatkan kekuatan lensa dan lebih membelokkan berkas sinar. Pada mata normal, otot siliaris berelaksasi dan lensa menggepeng untuk melihat jauh, tetapi otot ini berkontraksi agar lensa menjadi lebih konveks dan lebih kuat untuk melihat dekat. Otot siliaris dikontrol oleh sistem saraf autonom, dengan stimulasi simpatis menyebabkan relaksasi dan stimulasi parasimpatis menyebabkannya berkontraksi (Sharewood, 2015).

Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat terorganisasi, dengan kemampuan untuk memulai pengolahan informasi penglihatan sebelum informasi tersebut ditransmisikan melalui nervus opticus ke korteks visual. Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mengubah rangsangan cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh jaras-jaras penglihatan ke korteks penglihatan oksipital. Fotoreseptor kerucut dan batang terletak di lapisan terluar retina sensorik yang avaskular dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mengawali proses penglihatan, lihat gambar 2. 4. (Fletcher, et al., 2016).


(Sharewood, 2015)

Gambar 4 Lapisan Retina